Kisah Kasih

  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

 


Bagai ikan yang bermigrasi

Maka aku akan melakukan hal yang sama

Berpindah mencari tempat ternyaman

Memberikan dan mendapatkan kasih sayang

Namun jika sudah tidak ada kepastian

Aku akan lanjut pergi berlayar

Jangan salahkan aku

Karena hati ini aku yang jaga, bukan diberi dengan cuma-cuma

 

Pagi menjelang di tengah kota yang berisik

Langkah kakiku seirama dengan bunyi kereta

Entahlah. Untuk kesekian kalinya aku berjalan tanpa tujuan

Pernahkah kamu merasa kosong jiwa saat banyak cinta menghujani ?

Palsuku tertawa risau mengacau menemani hari

Seperti patung yang bernyawa dan berhati

Di setiap jumpaku dan jumpanya

Hanya ada aku dan bayangan

Di setiap jalan dan persimpangan

Hanya ada aku dan kenangan

Hatiku lemah

Tak kuasa

Karena tak kunjung dimilikimu

Pertanyaan “aku kurang apalagi ?”

Selalu jadi perdebatan didalam senyap

Aku takut

Namun aku menyiapkan ruang

Agar kelak jika engkau berniat untuk tinggal

Sudah ada tempat untuk pulang


 

 

     Pa, dimana ?

Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk aku memulai percakapan. Aku menanyakan yang tak pernah ku ucap dua puluh tahun ini. Bagaimana bisa aku tumbuh tanpa kasih seorang Papa. Tapi hanya kekecewaan yang aku ingat. Sosokmu sudah menghilang dalam ingatan. Aku hanya bisa mengingat jika aku membuka album foto. 

    Pa, menyesalkah ?

Adakah terbesit rasa penyesalan yang amat dalam di dirimu. Meninggalkan anakmu demi dirimu sendiri dan hidup yang baru. 

    Pa, kakak sudah sarjana dan kerja sekarang!

Aku ingin bilang demikian secara langsung. Ingin ku buktikan kepadamu bahwa anak sulungmu ini berhasil dari jerih payah seorang Ibu. 

    Aku yang masih mencari sosok pendamping hidup agar tak mau bertemu lagi seperti sosokmu. Aku yang tertatih melatih rasa kecewa atas perbuatan laki-laki yang meninggalkanku. Aku yang mempunyai seribu kepalsuan bahwa diriku ingin tegar, namun aku lelah dan menangis di pojok kamar. 

Kuharap dirimu tak sebahagia dariku. Kuharap ada kata maaf terucap darimu untukku. Yang jelas, yang hanya tau diirmu hanya Tuhan semata. 

Semoga, orang yang ku anggap Papa namun tak sebagaimana statusnya jadi Papa... tetap diberikan kesehatan. Agar suatu saat aku bisa sekali lagi memanggilmu "Pa, Apa kabar?"

Dalam ruang ramai ku diam 

Waktu berlalu dan tak ada sapaan 

Apa yang paling menyedihkan? 

Kita yang saling melupakan 

Aku mengisi keberanian 

Di tengah kosongnya toples perasaan


Tanpa adanya paksaan 


Mengetik dan mengirimkan pesan 


"Selamat Hari Raya Lebaran" 


Kepada mu 


Yang tahun lalu membahagiakan diriku

 

Apakah arti rasa itu ?

Akankah aku yang berbeda menafsirkannya

Perihal gugur sebelum ujian

Maka aku hanya butuh kepastian

Cerita yang tak pernah ranum

Membusuk di belanga tanpa bicara

 

Sore itu aku menunggumu  

Diantara para penumpang yang berlalu 

Jaket hitam celana cokelat 

 Kulihat dirimu menyebrang ditengah kerumunan 

Sapaan pertama dariku dan kita sepakat untuk meneguk kopi 

Gelas kecil untukmu 

Gelas sedang untukku  

Kita berkenalan dengan malu-malu 

Sungguh lucu

 Sampai akhirnya kita tiba 

Keretaku akan datang  

Lambaian tangan  Dan sebuah pesan  “kabarin kalau sudah sampai”

     Pagi ini aku terbangun dengan perasaan tidak menentu. Bukan apa-apa. Mengingat apa yang kamu ceritakan, aku jadi tersadar. Tak seharusnya aku memendam ini semua sendirian. Aku butuh tempat bersandar. Aku butuh “rumah” untuk pulang.

     Tak perlu berlama-lama. Aku bergegas mandi dan menyiapkan barang-barang yang akan aku butuhkan nanti. Ku kemas semua dalam satu buah tas gunung berwarna hijau mint, favoritku. Tiket kereta telah aku pesan. Dan aku siap untuk menanti perjalanan sore nanti.

     “Nan, bumi itu luas.  Selagi kamu masih bisa menginjak kaki di bumi. Coba rasakan hangatnya matahari. Tapi semua ada jatahnya. Kamu gak bisa memaksakan dunia sekitar berpusat di satu titik aja.”

     Aku tiba di stasiun pasar senen Jakarta. Maka disini aku akan benar-benar pergi. Menengok deretan antrian penumpang lain. Tak ada sapaan ataupun salam perpisahan untukku disini. Aku bergegas masuk.

     Tak ada yang benar-benar ramai di dunia ini

     Tak ada yang benar-benar sepi di dunia ini

     Mungkin selama ini hanya diriku yang sibuk sendiri

     Mungkin aku yang selalu kecewa dengan segala yang ada

     Mungkin aku tak benar-benar pulih dalam waktu  

 

     Ku tatap setiap sudut kota Jakarta ini. Keretaku perlahan pergi di tengah tenggelamnya matahari.


 Selalu ada kata semoga di tiap doa 

Sedikit berharap 

Meminta petunjuk

Kesedihan diubah jadi kebahagiaan

Kecewa diubah jadi sebuah pelajaran 

Selagi bumi masih di pijak 

Maka aku masih berhak 

Mencinta dan memberi kasih sayang

Kepada dia yang ikhlas menerima tanpa memaksa

Kepada dia yang mendengar tanpa menutup sebelah mata

Kepada dia yang selalu berujar manis tanpa pemanis 

Kepada dia yang tau bagaimana mengendalikan nafsu


 Kita adalah dua kutub yang berlawanan

Aku berpusat pada bulan

Kamu bersumbu pada matahari

 

Kita patuh pada rutenya masing-masing

Aku mengalir bagaikan air

Kamu bersikeras bagaikan angin

 

“Bisakah mengikutimu tanpa berubah haluanku?” tanyaku

“Aku tak mampu. Tak mampu berjalan beriringan karena kita akan selalu berselisihan.” Jawabmu

 

Akhirnya kita sepakat. Kembali pada awal mula dimana kita beranjak.

 


 

Aku ingin mengajakmu melihat dunia baru.

Genggam tanganku, aku tak akan melepasmu.

Selama ini dirimu kesepian ku tinggalkan.

Bersamamu berdua saja tak apa.

 Jika kamu butuh pundak, aku bersedia  memberinya.

Jika kamu butuh untuk didengarkan, dua puluh empat jam ku sedia memberi waktu.

Kamu ingin menangis ya..

Menangislah. Luapkanlah kekecewaanmu itu.

Kecewamu yang tak terbendung sejak kecil.

Luka basah yang tak pernah kering.

Dirimu yang dipaksa kuat menanggung .

Dibatas ambang hingga terombang ambing.

 


Aku berjalan di tengah pemakaman. 

Memandang batu nisan tua yang usianya sudah lebih dari usiaku sekarang. 

Rasanya selalu sama. Hangat. 

Terdengar aneh mungkin, 

Bagaimana bisa dirimu merasa kehangatan yang bahkan ketika masih hidup pun  tak sempat untuk bertemu . 

Tapi semenjak aku lahir ke dunia, aku sudah di ajak ke pusaranya. 

Mungkin, jika ia masih ada, akan jadi sosok tempatku bersandar di tengah banyaknya kecewa..

Mungkin akan selalu ada pelukan  ketika aku merasa kedinginan dan butuh kehangatan.

Mungkin ia akan selalu memberi lelucon saat cucu pertamanya ini memasang muka masam.

Mungkin ia akan mengajariku memotret dengan kameranya itu, sama seperti apa yang kulakukan sekarang

Mungkin dan mungkin... 

Hanya ada kemungkinan-kemungkinan yang tak akan pernah jadi kenyataan. 

Hanya ada diriku yang mengoceh seorang diri disini. 

Bercerita dari tahun ke tahun apa saja yang sudah aku dapatkan. 

Setidaknya dirimu tau, cucumu ini patut dibanggakan. 



Taman Makam Pahlawan Kalibata, 

Februari 2021




Mungkinkah engkau sadari 

Perasaan yang tak menentu ini

Oh sayang.. dapatkah aku memanggilmu 

Tuk bertemu dan memelukmu

Bodohnya aku menjadi berharap tak pasti

Apa perlu menunggu setahun lagi

Untuk menerima hati kembali




 Ukiran senyum disana menghilang

Hatiku telah kau patahkan

Petir di siang bolong

Kenangan hangat tertinggal di memori

Aku meringis kesakitan

Tak satupun insan mendengar lolonganku 

Diam di pojok kamar 

Menghitung waktu berharap cepat berlalu 

Sungguh klise. Tapi benar adanya. Di tengah dunia yang banyak tuntutan dan rasanya tak ada waktu untuk mengasihi. Cinta merupakan obat yang ampuh.



 Tak perlu banyak alasan untuk mencintai, menurut saya. 

Layaknya kasih ibu sepanjang masa. Atau mantan kekasihmu yang diam-diam mendoakanmu setelah sujudnya. Hidup begitu singkat jika isinya hanya membenci. Mungkin sebenarnya semua manusia di bumi ini penuh cinta. Hanya saja sebagian dari mereka mengharap balik, atas apa yang telah ditebar. 


Terlalu rumit  bila segalanya harus sesuai apa keinginan kita. Saya sadari itu. Maka kini saya melangkah tanpa rencana. Mengasihi orang-orang terdekat. Berani berkata cukup atas apa yang saya punya, tanpa harus membandingkan. 

Maka hati saya sudah penuh kehangatan. 


Tak perlu mencari atas apa yang belum dimiliki,
tapi hargai dan cintai apa yang sudah dipunya.
Karena mencinta tak perlu alasan untuk berkembang. 

Tak perlu diubah untuk saling berjalan...



     Akhir bulan, sudah mulai hujan. Tentu aku tidak menyalahkan. Bumi dan bulan berputar sesuai porosnya, lalu mengapa aku tak bisa sesuai dengan sumbunya ? Layaknya petuah hidup bahwa kenyataan suka tak sesuai, tapi  aku merasa segala sesuatu untukku tak sesuai dengan rencana. Bagai petir di siang bolong. Aku meratapi beberapa kalimat di buku yang ku baca dan apa yang terjadi hari ini. Tawaran S2 dari ibu dan aku yang sedang kalut dengan semua prahara kehidupan asmara. Ah, mana mungkin aku bisa berpikir jernih sekarang. Apalagi urusan mengajar siswa selalu ku urusi ditengah gusar perasaan. 

     Hidup bagai drama. Malah lebih drama dari sinetron di televisi swasta. 

    Aroma kopi sudah mendingin. Aku menutup buku didepanku dan melihat ke jendela. Jendela kedai kopi favoritku. Mungkin ini terakhir kali ku kesini. Sebuah ironi terakhir kesini dengan orang yang kau sayang namun berakhir untuk berjalan masing-masing. Terima kasih. Semoga sehat. 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

Categories

  • Curcolan 6
  • hidup 8
  • keluarga 1
  • lagu 1
  • manusia 6
  • perasaan 13
  • prosa 9
  • Puisi 8
  • Rekomendasi 1
  • sedih 3

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Viewers

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2021 (16)
    • ▼  Agustus (1)
      • Yang Tak Terbalas
    • ►  Juni (2)
      • Tempat untuk Pulang
      • Surat Terbuka Untuk Papa
    • ►  Mei (3)
      • Bab terakhir
      • Malam Takbiran
      • Gugur
    • ►  April (3)
      • Kedai Kopi di Stasiun Manggarai
      • Pergi
      • Semoga
    • ►  Maret (6)
      • Kita Yang Tak Pernah Searah
      • Mari Kita Pergi
      • Di Depan Pusara
      • Sampai Kapan
      • Di Pojok Kamar
      • Cinta Tanpa Alasan
    • ►  Januari (1)
      • Hujan Dan Secangkir Kopi.
  • ►  2020 (7)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)
    • ►  September (4)
  • ►  2019 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2013 (5)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (2)

Part Of

Part Of

Laporkan Penyalahgunaan

Pages

  • Home

Mengenai Saya

Foto saya
sipit-absurd.blogspot.com
Lihat profil lengkapku

Followers

Popular Posts

  • Kim Na Young - Watch Memories
  • Membisu.
  • Isi kepala
  • Gugur

Labels

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template