Bagai ikan yang bermigrasi
Maka aku akan melakukan hal yang sama
Berpindah mencari tempat ternyaman
Memberikan dan mendapatkan kasih sayang
Namun jika sudah tidak ada kepastian
Aku akan lanjut pergi berlayar
Jangan salahkan aku
Karena hati ini aku yang jaga, bukan diberi dengan cuma-cuma
Pagi menjelang di tengah kota yang berisik
Langkah kakiku seirama dengan bunyi kereta
Entahlah. Untuk kesekian kalinya aku berjalan tanpa tujuan
Pernahkah kamu merasa kosong jiwa saat banyak cinta menghujani ?
Palsuku tertawa risau mengacau menemani hari
Seperti patung yang bernyawa dan berhati
Di setiap jumpaku dan jumpanya
Hanya ada aku dan bayangan
Di setiap jalan dan persimpangan
Hanya ada aku dan kenangan
Hatiku lemah
Tak kuasa
Karena tak kunjung dimilikimu
Pertanyaan “aku kurang apalagi ?”
Selalu jadi perdebatan didalam senyap
Aku takut
Namun aku menyiapkan ruang
Agar kelak jika engkau berniat untuk tinggal
Sudah ada tempat untuk pulang
Pa, dimana ?
Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk aku memulai percakapan. Aku menanyakan yang tak pernah ku ucap dua puluh tahun ini. Bagaimana bisa aku tumbuh tanpa kasih seorang Papa. Tapi hanya kekecewaan yang aku ingat. Sosokmu sudah menghilang dalam ingatan. Aku hanya bisa mengingat jika aku membuka album foto.
Pa, menyesalkah ?
Adakah terbesit rasa penyesalan yang amat dalam di dirimu. Meninggalkan anakmu demi dirimu sendiri dan hidup yang baru.
Pa, kakak sudah sarjana dan kerja sekarang!
Aku ingin bilang demikian secara langsung. Ingin ku buktikan kepadamu bahwa anak sulungmu ini berhasil dari jerih payah seorang Ibu.
Aku yang masih mencari sosok pendamping hidup agar tak mau bertemu lagi seperti sosokmu. Aku yang tertatih melatih rasa kecewa atas perbuatan laki-laki yang meninggalkanku. Aku yang mempunyai seribu kepalsuan bahwa diriku ingin tegar, namun aku lelah dan menangis di pojok kamar.
Kuharap dirimu tak sebahagia dariku. Kuharap ada kata maaf terucap darimu untukku. Yang jelas, yang hanya tau diirmu hanya Tuhan semata.
Semoga, orang yang ku anggap Papa namun tak sebagaimana statusnya jadi Papa... tetap diberikan kesehatan. Agar suatu saat aku bisa sekali lagi memanggilmu "Pa, Apa kabar?"
Dalam ruang ramai ku diam
Waktu berlalu dan tak ada sapaan
Apa yang paling menyedihkan?
Kita yang saling melupakan
Aku mengisi keberanian
Di tengah kosongnya toples perasaan
Tanpa adanya paksaan
Mengetik dan mengirimkan pesan
"Selamat Hari Raya Lebaran"
Kepada mu
Yang tahun lalu membahagiakan diriku
Apakah arti rasa itu ?
Akankah aku yang berbeda menafsirkannya
Perihal gugur sebelum ujian
Maka aku hanya butuh kepastian
Cerita yang tak pernah ranum
Membusuk di belanga tanpa bicara
Sore itu aku menunggumu
Diantara para penumpang yang berlalu
Jaket hitam celana cokelat
Kulihat dirimu menyebrang ditengah kerumunan
Sapaan pertama dariku dan kita sepakat untuk meneguk kopi
Gelas kecil untukmu
Gelas sedang untukku
Kita berkenalan dengan malu-malu
Sungguh lucu
Sampai akhirnya kita tiba
Keretaku akan datang
Lambaian tangan Dan sebuah pesan “kabarin kalau sudah sampai”
Pagi
ini aku terbangun dengan perasaan tidak menentu. Bukan apa-apa. Mengingat apa
yang kamu ceritakan, aku jadi tersadar. Tak seharusnya aku memendam ini semua
sendirian. Aku butuh tempat bersandar. Aku butuh “rumah” untuk pulang.
Tak
perlu berlama-lama. Aku bergegas mandi dan menyiapkan barang-barang yang akan
aku butuhkan nanti. Ku kemas semua dalam satu buah tas gunung berwarna hijau
mint, favoritku. Tiket kereta telah aku pesan. Dan aku siap untuk menanti
perjalanan sore nanti.
“Nan,
bumi itu luas. Selagi kamu masih bisa
menginjak kaki di bumi. Coba rasakan hangatnya matahari. Tapi semua ada
jatahnya. Kamu gak bisa memaksakan dunia sekitar berpusat di satu titik aja.”
Aku
tiba di stasiun pasar senen Jakarta. Maka disini aku akan benar-benar pergi. Menengok
deretan antrian penumpang lain. Tak ada sapaan ataupun salam perpisahan untukku
disini. Aku bergegas masuk.
Tak
ada yang benar-benar ramai di dunia ini
Tak
ada yang benar-benar sepi di dunia ini
Mungkin
selama ini hanya diriku yang sibuk sendiri
Mungkin
aku yang selalu kecewa dengan segala yang ada
Mungkin
aku tak benar-benar pulih dalam waktu
Ku
tatap setiap sudut kota Jakarta ini. Keretaku perlahan pergi di tengah
tenggelamnya matahari.
Selalu ada kata semoga di tiap doa
Sedikit berharap
Meminta petunjuk
Kesedihan diubah jadi kebahagiaan
Kecewa diubah jadi sebuah pelajaran
Selagi bumi masih di pijak
Maka aku masih berhak
Mencinta dan memberi kasih sayang
Kepada dia yang ikhlas menerima tanpa memaksa
Kepada dia yang mendengar tanpa menutup sebelah mata
Kepada dia yang selalu berujar manis tanpa pemanis
Kepada dia yang tau bagaimana mengendalikan nafsu
Kita adalah dua kutub yang berlawanan
Aku berpusat pada bulan
Kamu bersumbu pada matahari
Kita patuh pada rutenya masing-masing
Aku mengalir bagaikan air
Kamu bersikeras bagaikan angin
“Bisakah mengikutimu tanpa berubah haluanku?” tanyaku
“Aku tak mampu. Tak mampu berjalan beriringan karena kita
akan selalu berselisihan.” Jawabmu
Akhirnya kita sepakat. Kembali pada awal mula dimana kita
beranjak.
Aku ingin mengajakmu melihat dunia baru.
Genggam tanganku, aku tak akan melepasmu.
Selama ini dirimu kesepian ku tinggalkan.
Bersamamu berdua saja tak apa.
Jika kamu butuh
pundak, aku bersedia memberinya.
Jika kamu butuh untuk didengarkan, dua puluh empat jam ku
sedia memberi waktu.
Kamu ingin menangis ya..
Menangislah. Luapkanlah kekecewaanmu itu.
Kecewamu yang tak terbendung sejak kecil.
Luka basah yang tak pernah kering.
Dirimu yang dipaksa kuat menanggung .
Dibatas ambang hingga terombang ambing.
Aku berjalan di tengah pemakaman.
Memandang batu nisan tua yang usianya sudah lebih dari usiaku sekarang.
Rasanya selalu sama. Hangat.
Terdengar aneh mungkin,
Bagaimana bisa dirimu merasa kehangatan yang bahkan ketika masih hidup pun tak sempat untuk bertemu .
Tapi semenjak aku lahir ke dunia, aku sudah di ajak ke pusaranya.
Mungkin, jika ia masih ada, akan jadi sosok tempatku bersandar di tengah banyaknya kecewa..
Mungkin akan selalu ada pelukan ketika aku merasa kedinginan dan butuh kehangatan.
Mungkin ia akan selalu memberi lelucon saat cucu pertamanya ini memasang muka masam.
Mungkin ia akan mengajariku memotret dengan kameranya itu, sama seperti apa yang kulakukan sekarang
Mungkin dan mungkin...
Hanya ada kemungkinan-kemungkinan yang tak akan pernah jadi kenyataan.
Hanya ada diriku yang mengoceh seorang diri disini.
Bercerita dari tahun ke tahun apa saja yang sudah aku dapatkan.
Setidaknya dirimu tau, cucumu ini patut dibanggakan.
Taman Makam Pahlawan Kalibata,
Februari 2021
Mungkinkah engkau sadari
Perasaan yang tak menentu ini
Oh sayang.. dapatkah aku memanggilmu
Tuk bertemu dan memelukmu
Bodohnya aku menjadi berharap tak pasti
Apa perlu menunggu setahun lagi
Untuk menerima hati kembali
Ukiran senyum disana menghilang
Hatiku telah kau patahkan
Petir di siang bolong
Kenangan hangat tertinggal di memori
Aku meringis kesakitan
Tak satupun insan mendengar lolonganku
Diam di pojok kamar
Menghitung waktu berharap cepat berlalu
Sungguh klise. Tapi benar adanya. Di tengah dunia yang banyak tuntutan dan rasanya tak ada waktu untuk mengasihi. Cinta merupakan obat yang ampuh.
Tak perlu banyak alasan untuk mencintai, menurut saya.
Layaknya kasih ibu sepanjang masa. Atau mantan kekasihmu yang diam-diam mendoakanmu setelah sujudnya. Hidup begitu singkat jika isinya hanya membenci. Mungkin sebenarnya semua manusia di bumi ini penuh cinta. Hanya saja sebagian dari mereka mengharap balik, atas apa yang telah ditebar.
Terlalu rumit bila segalanya harus sesuai apa keinginan kita. Saya sadari itu. Maka kini saya melangkah tanpa rencana. Mengasihi orang-orang terdekat. Berani berkata cukup atas apa yang saya punya, tanpa harus membandingkan.
Maka hati saya sudah penuh kehangatan.
Tak perlu mencari atas apa yang belum dimiliki,
tapi hargai dan cintai apa yang sudah dipunya.
Karena mencinta tak perlu alasan untuk berkembang.
Tak perlu diubah untuk saling berjalan...
Akhir bulan, sudah mulai hujan. Tentu aku tidak menyalahkan. Bumi dan bulan berputar sesuai porosnya, lalu mengapa aku tak bisa sesuai dengan sumbunya ? Layaknya petuah hidup bahwa kenyataan suka tak sesuai, tapi aku merasa segala sesuatu untukku tak sesuai dengan rencana. Bagai petir di siang bolong. Aku meratapi beberapa kalimat di buku yang ku baca dan apa yang terjadi hari ini. Tawaran S2 dari ibu dan aku yang sedang kalut dengan semua prahara kehidupan asmara. Ah, mana mungkin aku bisa berpikir jernih sekarang. Apalagi urusan mengajar siswa selalu ku urusi ditengah gusar perasaan. Hidup bagai drama. Malah lebih drama dari sinetron di televisi swasta.
Aroma kopi sudah mendingin. Aku menutup buku didepanku dan melihat ke jendela. Jendela kedai kopi favoritku. Mungkin ini terakhir kali ku kesini. Sebuah ironi terakhir kesini dengan orang yang kau sayang namun berakhir untuk berjalan masing-masing. Terima kasih. Semoga sehat.