Sore itu aku menunggumu
Diantara para penumpang yang berlalu
Jaket hitam celana cokelat
Kulihat dirimu menyebrang ditengah kerumunan
Sapaan pertama dariku dan kita sepakat untuk meneguk kopi
Gelas kecil untukmu
Gelas sedang untukku
Kita berkenalan dengan malu-malu
Sungguh lucu
Sampai akhirnya kita tiba
Keretaku akan datang
Lambaian tangan Dan sebuah pesan “kabarin kalau sudah sampai”
Pagi
ini aku terbangun dengan perasaan tidak menentu. Bukan apa-apa. Mengingat apa
yang kamu ceritakan, aku jadi tersadar. Tak seharusnya aku memendam ini semua
sendirian. Aku butuh tempat bersandar. Aku butuh “rumah” untuk pulang.
Tak
perlu berlama-lama. Aku bergegas mandi dan menyiapkan barang-barang yang akan
aku butuhkan nanti. Ku kemas semua dalam satu buah tas gunung berwarna hijau
mint, favoritku. Tiket kereta telah aku pesan. Dan aku siap untuk menanti
perjalanan sore nanti.
“Nan,
bumi itu luas. Selagi kamu masih bisa
menginjak kaki di bumi. Coba rasakan hangatnya matahari. Tapi semua ada
jatahnya. Kamu gak bisa memaksakan dunia sekitar berpusat di satu titik aja.”
Aku
tiba di stasiun pasar senen Jakarta. Maka disini aku akan benar-benar pergi. Menengok
deretan antrian penumpang lain. Tak ada sapaan ataupun salam perpisahan untukku
disini. Aku bergegas masuk.
Tak
ada yang benar-benar ramai di dunia ini
Tak
ada yang benar-benar sepi di dunia ini
Mungkin
selama ini hanya diriku yang sibuk sendiri
Mungkin
aku yang selalu kecewa dengan segala yang ada
Mungkin
aku tak benar-benar pulih dalam waktu
Ku
tatap setiap sudut kota Jakarta ini. Keretaku perlahan pergi di tengah
tenggelamnya matahari.
Selalu ada kata semoga di tiap doa
Sedikit berharap
Meminta petunjuk
Kesedihan diubah jadi kebahagiaan
Kecewa diubah jadi sebuah pelajaran
Selagi bumi masih di pijak
Maka aku masih berhak
Mencinta dan memberi kasih sayang
Kepada dia yang ikhlas menerima tanpa memaksa
Kepada dia yang mendengar tanpa menutup sebelah mata
Kepada dia yang selalu berujar manis tanpa pemanis
Kepada dia yang tau bagaimana mengendalikan nafsu