3 bulan diakhir 2020.
Banyak hal terbuang ditahun ini. Banyak yang hilang namun
terganti. Ada yang pergi ada pula yang kembali. Layaknya kisah tragis dalam
drama tv, corona mengguncang bumi.
Dan aku tersadar, waktu berjalan tiada kesan.
Aku. Tak terkecuali. Bagai bom atom yang
sering meledak dalam pikiran, ingin segera kuhilangkan. Teman menjadi suatu
beban sekarang. Bagaimana bisa tahun ini menjadi tahun masalah bagi semua
manusia. Duniaku hanya sekitar luas rumah dan jejaring dunia maya. Bercerita dan
bermain hanya lewat internet, dikarenakan ada musuh yang tak kasat mata.
Wahai Tuhan..
Bisakah aku meminta akhir tahun ini diberi keajaiban ?
Ingin kehidupan kembali normal. Ingin mereka yang dilanda
kekurangan segera mendapat kelebihan. Ingin yang sakit, kembali pulih dan
bangkit.
Refleksi diri yang kulihat tiap kutatap wajahku dicermin..
ingatanku kembali ke masa kecil.
Dunia yang penuh sederhana namun aku bahagia didalamnya.
Lalu? Apa sekarang aku tak bahagia? Ucapku sambil menatap
mukaku sendiri.
Bahkan sampai detik ini, rasa bahagia masih kucari.
Bukan.
Mungkin aku salah.
Mungkin
aku belum sanggup menciptakan lagi.
Kepada mereka yang sedang memikul rasa kecewa, mungkin kita
sama,
Mari berdoa.
Berlalu. Artinya lampau atau lewat. Ngomongin yang lampau
memang gak ada habisnya. Akan selalu ada yang berlalu dalam tiap kehidupan kita.
Coba pikir aja, 5 menit yang lalu lo lagi ngapain? Udah jadi suatu yang lampau
kan? Oke oke. Gue gak bahas soal lo lagi ngapain sih beberapa menit atau
beberapa jam yang lalu. Gue mau ngomongin soal masalah hati yang kadang suka
gak kompromi kalo ngungkit masa lalu.
Mungkin sebagian orang atau lo yang lagi baca ini lagi ada
difase ini, terjebak di masa lalu atau lagi proses move on. Tapi
buat melangkah maju, pasti ada usaha keras untuk ninggalin masa lalu.
Pasti ada hikmah dari apa yang ditinggalkan. Ada di masa lalu belum berarti ada juga di masa depan. Semua yang ada di dunia ini jauh dari kepastian. Tapi gimana kalo sudah berusaha keras, ingatan di kepala lo suka seenaknya ke masa lalu. Atau lo jadinya terjebak..
Beberapa kata mereka soal terjebak di masa lalu..
Tak ada lagi sosok yang pernah mengisi dihati, bukan berarti hidup lo berhenti. Keep moving on. Gak ada yang namanya terjebak, cuma ingatan saja yang membludak hahaha
Pada akhirnya sebuah usaha move on bukan perihal melupakan, tapi merelakan. Kalau kepala diciptakan untuk mengingat, bukan untuk melupakan. Bukan soal lari dari kenyataan tapi menerima kehilangan.
Terus berjalan, jangan lari. Hati-hati.
“It is important that we forgive ourselves for making mistakes. We need to learn from our errors and move on.”– Steve Maraboli

"Akhirnya aku lihat lagi
Jemarimu yang bergerak bebas
Seiring tawamu.."
Mendengar lagu ini, gue cuma bisa nangis. Gue gatau mantra apa yang mas Kunto Aji siratkan dalam lagunya. Ingatan di kepala gue secara otomatis memutar kejadian di sekitar tahun awal gue kuliah. Sebuah luka yang terpaksa sembuh, karena waktu terus berjalan dan gue sendirian. Sebuah kehilangan terbesar yang gue rasakan. Support system yang gue butuhkan, tapi Tuhan sudah menentukan batas waktunya.
" Untuk almarhumah Dea , makasih sudah menjadi teman yang menyenangkan dan rumahmu menjadi tempat ternyaman walau dalam kesederhanaan. Makasih atas waktu singkatnya, bercengkerama dan makan bersama. Andai aku tau kala itu terakhir kali bertemu kamu, mungkin tak ada kata nanti-nanti untuk bermain bersama. Andai aku bolos kuliah hari itu untuk menemui kamu di rumah sakit,mungkin aku tak semenyesal sekarang ini. Terima kasih, sudah berjuang selama ini. Semoga kamu bahagia disana. Dan melihat aku masih berjuang mencari jalanku sendiri. Aku yang masih patah dan nyaman dalam kesedihan. Aku sayang kamu."
"Tak tergantikan.. Walau kita tak lagi saling menyapa"
Gue suka banget sama kopi. Entah sejak kapan jadi ketagihan gini. Lewat kopi, gue menjalani hari-hari. Dan gue juga belajar dari kopi. Bahwa hidup gak soal manis saja. Buktinya, walau kopi pahit tetap saja ada yang suka. Gitu juga soal hidup. Gue paling suka ice latte sih. Inget suatu hari gue pesen di sebuah kedai kopi terkenal jaman sekarang .
"Ice latte ya mas." ucap gue
"Pahit loh mba." jawab si mas kopinya.
"Iya mas. Tau kok. Hidup saya lebih pahit mas. Hehehe" canda gue
Mas nya tersenyum sambil melanjutkan tugasnya dibalik mesin kasir.
Itu salah satu kisah gue sama kopi. Cukup membekas diingatan, karena kejadian itu pas gue lagi ada kerjaan di Malang. Ada lagi, pas gue lagi kesel-keselnya sama orang. Ujungnya buat meredakan emosi, jadilah gue pesan kopi yang sama, di tempat kopi yang sama tapi daerahnya beda. Kali ini di Bogor. Gatau udah berapa banyak gue beli itu "ice lattenya" si Memories. Tapi emang favorit banget sih. Sumpah gatau lagi mau bilang apa.
Tapi, gue juga mau hidup bagaikan kopi. Karena, walau gue orangnya ada kepahitan dalam kelakuan dan sifat, tapi orang lain tetap menyukai gue apa adanya. Tanpa harus menaruh pemanis buatan agar terasa mengharumkan.
Yaudah, gue mau lanjutin minum kopi dulu ya. Keburu dingin.