Pilu Membiru Experience
"Akhirnya aku lihat lagi
Jemarimu yang bergerak bebas
Seiring tawamu.."
Mendengar lagu ini, gue cuma bisa nangis. Gue gatau mantra apa yang mas Kunto Aji siratkan dalam lagunya. Ingatan di kepala gue secara otomatis memutar kejadian di sekitar tahun awal gue kuliah. Sebuah luka yang terpaksa sembuh, karena waktu terus berjalan dan gue sendirian. Sebuah kehilangan terbesar yang gue rasakan. Support system yang gue butuhkan, tapi Tuhan sudah menentukan batas waktunya.
" Untuk almarhumah Dea , makasih sudah menjadi teman yang menyenangkan dan rumahmu menjadi tempat ternyaman walau dalam kesederhanaan. Makasih atas waktu singkatnya, bercengkerama dan makan bersama. Andai aku tau kala itu terakhir kali bertemu kamu, mungkin tak ada kata nanti-nanti untuk bermain bersama. Andai aku bolos kuliah hari itu untuk menemui kamu di rumah sakit,mungkin aku tak semenyesal sekarang ini. Terima kasih, sudah berjuang selama ini. Semoga kamu bahagia disana. Dan melihat aku masih berjuang mencari jalanku sendiri. Aku yang masih patah dan nyaman dalam kesedihan. Aku sayang kamu."
"Tak tergantikan.. Walau kita tak lagi saling menyapa"


0 komentar