Kita adalah dua kutub yang berlawanan
Aku berpusat pada bulan
Kamu bersumbu pada matahari
Kita patuh pada rutenya masing-masing
Aku mengalir bagaikan air
Kamu bersikeras bagaikan angin
“Bisakah mengikutimu tanpa berubah haluanku?” tanyaku
“Aku tak mampu. Tak mampu berjalan beriringan karena kita
akan selalu berselisihan.” Jawabmu
Akhirnya kita sepakat. Kembali pada awal mula dimana kita
beranjak.
Aku ingin mengajakmu melihat dunia baru.
Genggam tanganku, aku tak akan melepasmu.
Selama ini dirimu kesepian ku tinggalkan.
Bersamamu berdua saja tak apa.
Jika kamu butuh
pundak, aku bersedia memberinya.
Jika kamu butuh untuk didengarkan, dua puluh empat jam ku
sedia memberi waktu.
Kamu ingin menangis ya..
Menangislah. Luapkanlah kekecewaanmu itu.
Kecewamu yang tak terbendung sejak kecil.
Luka basah yang tak pernah kering.
Dirimu yang dipaksa kuat menanggung .
Dibatas ambang hingga terombang ambing.
Aku berjalan di tengah pemakaman.
Memandang batu nisan tua yang usianya sudah lebih dari usiaku sekarang.
Rasanya selalu sama. Hangat.
Terdengar aneh mungkin,
Bagaimana bisa dirimu merasa kehangatan yang bahkan ketika masih hidup pun tak sempat untuk bertemu .
Tapi semenjak aku lahir ke dunia, aku sudah di ajak ke pusaranya.
Mungkin, jika ia masih ada, akan jadi sosok tempatku bersandar di tengah banyaknya kecewa..
Mungkin akan selalu ada pelukan ketika aku merasa kedinginan dan butuh kehangatan.
Mungkin ia akan selalu memberi lelucon saat cucu pertamanya ini memasang muka masam.
Mungkin ia akan mengajariku memotret dengan kameranya itu, sama seperti apa yang kulakukan sekarang
Mungkin dan mungkin...
Hanya ada kemungkinan-kemungkinan yang tak akan pernah jadi kenyataan.
Hanya ada diriku yang mengoceh seorang diri disini.
Bercerita dari tahun ke tahun apa saja yang sudah aku dapatkan.
Setidaknya dirimu tau, cucumu ini patut dibanggakan.
Taman Makam Pahlawan Kalibata,
Februari 2021
Mungkinkah engkau sadari
Perasaan yang tak menentu ini
Oh sayang.. dapatkah aku memanggilmu
Tuk bertemu dan memelukmu
Bodohnya aku menjadi berharap tak pasti
Apa perlu menunggu setahun lagi
Untuk menerima hati kembali
Ukiran senyum disana menghilang
Hatiku telah kau patahkan
Petir di siang bolong
Kenangan hangat tertinggal di memori
Aku meringis kesakitan
Tak satupun insan mendengar lolonganku
Diam di pojok kamar
Menghitung waktu berharap cepat berlalu
Sungguh klise. Tapi benar adanya. Di tengah dunia yang banyak tuntutan dan rasanya tak ada waktu untuk mengasihi. Cinta merupakan obat yang ampuh.
Tak perlu banyak alasan untuk mencintai, menurut saya.
Layaknya kasih ibu sepanjang masa. Atau mantan kekasihmu yang diam-diam mendoakanmu setelah sujudnya. Hidup begitu singkat jika isinya hanya membenci. Mungkin sebenarnya semua manusia di bumi ini penuh cinta. Hanya saja sebagian dari mereka mengharap balik, atas apa yang telah ditebar.
Terlalu rumit bila segalanya harus sesuai apa keinginan kita. Saya sadari itu. Maka kini saya melangkah tanpa rencana. Mengasihi orang-orang terdekat. Berani berkata cukup atas apa yang saya punya, tanpa harus membandingkan.
Maka hati saya sudah penuh kehangatan.
Tak perlu mencari atas apa yang belum dimiliki,
tapi hargai dan cintai apa yang sudah dipunya.
Karena mencinta tak perlu alasan untuk berkembang.
Tak perlu diubah untuk saling berjalan...