Pergi

     Pagi ini aku terbangun dengan perasaan tidak menentu. Bukan apa-apa. Mengingat apa yang kamu ceritakan, aku jadi tersadar. Tak seharusnya aku memendam ini semua sendirian. Aku butuh tempat bersandar. Aku butuh “rumah” untuk pulang.

     Tak perlu berlama-lama. Aku bergegas mandi dan menyiapkan barang-barang yang akan aku butuhkan nanti. Ku kemas semua dalam satu buah tas gunung berwarna hijau mint, favoritku. Tiket kereta telah aku pesan. Dan aku siap untuk menanti perjalanan sore nanti.

     “Nan, bumi itu luas.  Selagi kamu masih bisa menginjak kaki di bumi. Coba rasakan hangatnya matahari. Tapi semua ada jatahnya. Kamu gak bisa memaksakan dunia sekitar berpusat di satu titik aja.”

     Aku tiba di stasiun pasar senen Jakarta. Maka disini aku akan benar-benar pergi. Menengok deretan antrian penumpang lain. Tak ada sapaan ataupun salam perpisahan untukku disini. Aku bergegas masuk.

     Tak ada yang benar-benar ramai di dunia ini

     Tak ada yang benar-benar sepi di dunia ini

     Mungkin selama ini hanya diriku yang sibuk sendiri

     Mungkin aku yang selalu kecewa dengan segala yang ada

     Mungkin aku tak benar-benar pulih dalam waktu  

 

     Ku tatap setiap sudut kota Jakarta ini. Keretaku perlahan pergi di tengah tenggelamnya matahari.


0 komentar