Surat Terbuka Untuk Papa

     Pa, dimana ?

Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk aku memulai percakapan. Aku menanyakan yang tak pernah ku ucap dua puluh tahun ini. Bagaimana bisa aku tumbuh tanpa kasih seorang Papa. Tapi hanya kekecewaan yang aku ingat. Sosokmu sudah menghilang dalam ingatan. Aku hanya bisa mengingat jika aku membuka album foto. 

    Pa, menyesalkah ?

Adakah terbesit rasa penyesalan yang amat dalam di dirimu. Meninggalkan anakmu demi dirimu sendiri dan hidup yang baru. 

    Pa, kakak sudah sarjana dan kerja sekarang!

Aku ingin bilang demikian secara langsung. Ingin ku buktikan kepadamu bahwa anak sulungmu ini berhasil dari jerih payah seorang Ibu. 

    Aku yang masih mencari sosok pendamping hidup agar tak mau bertemu lagi seperti sosokmu. Aku yang tertatih melatih rasa kecewa atas perbuatan laki-laki yang meninggalkanku. Aku yang mempunyai seribu kepalsuan bahwa diriku ingin tegar, namun aku lelah dan menangis di pojok kamar. 

Kuharap dirimu tak sebahagia dariku. Kuharap ada kata maaf terucap darimu untukku. Yang jelas, yang hanya tau diirmu hanya Tuhan semata. 

Semoga, orang yang ku anggap Papa namun tak sebagaimana statusnya jadi Papa... tetap diberikan kesehatan. Agar suatu saat aku bisa sekali lagi memanggilmu "Pa, Apa kabar?"

0 komentar